Kabupaten Simeulue adalah salah satu kabupaten di Aceh, Indonesia. Berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, Kabupaten Simeulue berdiri tegar di Samudera Indonesia. Kabupaten Simeulue merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat sejak tahun 1999, dengan harapan pembangunan semakin ditingkatkan di kawasan ini.
Ibukota Kabupaten Simeulue adalah Sinabang, kalau diucapkan dengan logat daerah adalah Si navang
yang berasal dari legenda Navang. Navang adalah si pembuat garam masa
dulu di daerah Babang (pintu masuk teluk Sinabang. Dulunya Navang
membuat garam dengan membendung air laut yang masuk ke pantai Babang,
kemudian dikeringkan lalu menjadilah garam. Garam Navang lambat laun
menjadi dikenal di sekitar Ujung Panarusan sampai ke Lugu. Jika penduduk
membutuhkan garam, maka mereka akan menuju si Navang, yang lambat laun
konsonan 'V' pada Navang berubah menjadi Nabang. Sementara Sibigo ibukota kecamatan Simeulue Barat berasal dari kata/kalimat CV dan Co karena masa-masa penjajahan dulu, Sibigo adalah lokasi perusahaan pengolahan kayu Rasak - sejenis kayu sangat keras setara dengan Jati - yang dikirim ke Belanda via laut.
Karena posisi geografisnya yang terisolasi dari Pulau Sumatera, hiruk-pikuk konflik di Aceh daratan tidak pernah berimbas di kawasan ini, bahkan tidak ada pergerakan GAM di kawasan kepulauan ini.
Sejarah
Peningkatan status Simeulue menjadi Kabupaten telah dirintis sejak
lama dan lahir dari keinginan luhur masyarakat Simeulue sendiri yaitu
melalui prakarsa sejumlah tokoh dan segenap komponen masyarakat. Tonggak
sejarah perjuangan ini dimulai sejak Kongres Rakjat Simeulue yang
sedianya dilaksanakan pada tahun 1956, namun terkendala saat itu dan
baru dilaksanakan pada tahun 1957. Salah satu bukti sejarah yang masih
ada saat ini adalah dokumen Hasil Putusan Kongres Rakjat Kewedanaan
Simeulue (Dok Rasmal Kahar) dan sebuah spanduk usang pelaksanaan kongres
tersebut yang telah lusuh dimakan usia. Saat itu Gubernur Aceh, Prof.
Ali Hasjmi melakukan kunjungan ke Simeulue pada tahun 1957 sebagai wujud
dukungan beliau terhadap isi pernyataan Kongres Rakjat Simeulue dalam
upaya peningkatan status Simeulue.
Kemudian pada tahun 1963 kembali diadakan musyawarah Luan Balu dan
dilanjutkan Musyawarah Rakyat Simeulue dan tahun 1980, dimana hasil
semua pertemuan tersebut hanya ada satu kata dan satu tekad bahwa
Simeulue harus berubah status menjadi Kabupaten Otonom. Seiring dengan
perjalanan waktu, perjuangan tetap diteruskan oleh tokoh-tokoh
masyarakat Simeulue, sehingga atas perjuangan yang begitu gigih dan tak
kenal lelah tersebut, kita memperoleh dukungan dari berbagai pihak yaitu
dari DPRD Tingkat I Aceh dan DPRD Tingkat II Aceh Barat.
Perkembangan selanjutnya setelah Drs. H. Muhammad Amin dilantik
menjadi Pembantu Bupati Simeulue, upaya ini terus digulirkan dengan
sungguh-sungguh dan terbukti pada tahun 1995 Gubernur Aceh menurunkan
tim pemutakhiran data ke Simeulue yang diikuti dengan kedatangan Dirjen
Bangda ke Simeulue pada tanggal 12 Desember 1995.
Sebagai akhir dari perjalanan ini, yaitu dengan datangnya Dirjen
PUOD, DPODS, dan Komisi II DPR-RI pada tanggal 30 Maret 1996 dan
mengadakan rapat umum di depan pendopo Pembantu Bupati Simeulue. Dimana
pada saat itu, J. Sondakh selaku Ketua Komisi II DPR-RI mengatakan rapat
hari ini seakan-akan sidang DPR-RI di luar gedung karena lengkap
dihadiri oleh empat fraksi yaitu: Fraksi Golkar, PPP, PDI dan Fraksi
Utusan Daerah dan beliau berjanji dalam waktu tidak begitu lama Simeulue
akan ditingkatkan statusnya. Alhamdulillah berkat Rahmat Allah SWT,
akhirnya hasil dari semua kunjungan tersebut serta niat dan doa yang
tulus dari seluruh masyarakat Simeulue, Presiden Republik Indonesia
Bapak H. Mohammad Soeharto pada tanggal 13 Agustus 1996 menandatangani
PP 53 tahun 1996 tentang peningkatan status wilayah Pembantu Bupati
Simeulue menjadi Kabupaten Administratif Simeulue. Selanjutnya pada
tanggal 27 September 1996 bertempat di DPRD Provinsi Daerah Istimewa
Aceh, Kabupaten Administratif Simeulue diresmikan oleh Menteri Dalam
Negeri Bapak Yogie S. Memet sekaligus melantik Drs. H. Muhammad Amin
sebagai Bupati Kabupaten Administratif Simeulue.
Simeulue telah berubah status meskipun masih bersifat administratif,
seluruh masyarakat menyambut gembira disertai rasa syukur menggema dari
Ujung Batu Belayar hingga batu Si Ambung-Ambung. Kabupaten yang dianggap
mimpi oleh sebagian masyarakat selama ini telah hadir nyata dalam
kehidupan masyarakat Simeulue. Status baru ini telah menambah semangat
yang tinggi untuk berjuang menggapai satu tahap lagi yaitu daerah
otonom.
Untuk mencapai usaha itu segala potensi dikerahkan, pikiran dan
tenaga dicurahkan, keringat bercucuran dimana semua anak pulau bahu
membahu dan disertai dengan doa yang senantiasa dipanjatkan demi sebuah
cita-cita. Akhirnya Allah SWT mengabulkan apa yang diinginkan, sehingga
melalui UU No. 48 Tahun 1999 lahirlah Kabupaten Simeulue dan Kabupaten
Bireun sebagai Kabupaten Otonom dalam khazanah Pemerintahan Indonesia.
Kemudian pada tanggal 12 Oktober 1999 Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia Ad Interim Faisal Tanjung meresmikan lahirnya Kabupaten
Simeulue dan tanggal inilah yang dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten
Simeulue yang setiap tahunnya diperingati.
Pembagian administrasi
Kabupaten Simeulue dibagi menjadi 10 kecamatan yaitu:- Alafan
- Salang
- Simeulue Barat
- Simeulue Tengah
- Simeulue Timur
- Simeulue Cut
- Teupah Barat
- Teupah Tengah
- Teupah Selatan
- Teluk Dalam
Penduduk
Hampir seluruh penduduk kepulauan ini beragama Islam. Penduduk kawasan ini juga berprofil seperti orang Cina, dengan kulit kuning dan sipit dan mempunyai bahasa yang berbeda dengan Aceh daratan.Bahasa
Terdapat tiga bahasa utama yang dominan dalam pergaulan sehari-hari yakni bahasa Devayan, bahasa Sigulai, dan bahasa Leukon. Bahasa Devayan umumnya digunakan oleh penduduk yang berdomisili di Kecamatan Simeulue Timur, Teupah Selatan, Teupah Barat, Simeulue Tengah dan Teluk Dalam. Bahasa Sigulai umumnya digunakan penduduk di Kecamatan Simeulue Barat, Alafan dan Salang. Sedangkan bahasa Leukon digunakan khususnya oleh penduduk Desa Langi dan Lafakha di Kecamatan Alafan. Selain itu digunakan juga bahasa pengantar (lingua franca) yang digunakan sebagai bahasa perantara sesama masyarakat yang berlainan bahasa di Simeulue yaitu bahasa Jamu atau Jamee (tamu), awalnya dibawa oleh para perantau niaga dari Minangkabau dan Mandailing.Budaya
Masyarakat Simeulue mempunyai adat dan budaya tersendiri berbeda dengan saudara-saudaranya di daratan Aceh, salah satunya adalah seni Nandong, suatu seni nyanyi bertutur diiringi gendang tetabuhan dan biola yang ditampilkan semalam suntuk pada acara-acara tertentu dan istimewa. Terdapat pula seni yang sangat digemari sebagian besar masyarakat, seni Debus, yaitu suatu seni bela diri kedigjayaan kekebalan tubuh terutama dari tusukan bacokan pedang, rencong, rantai besi membara, bambu, serta benda-benda tajam lainnya, dan dari seni ini pulalah para pendekar Simeulue acap diundang ke mancanegara.Gempa bumi dan tsunami
Gugusan Kepulauan Simeulue yang terdiri beberapa pulau besar dan kecil (± 40 buah) berada tepat di atas persimpangan tiga palung laut terbesar dunia, yakni pada pertemuan lempeng Asia dengan lempeng Australia dan lempeng Samudera Hindia. Sehingga pada saat terjadinya gempa bumi dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang ber-episentrum di ujung barat Pulau Simeulue, pulau ini mengalami kerusakan sarana prasarana sangat parah. Namun jumlah korban jiwa akibat peristiwa tersebut relatif minim, hal ini disebabkan masyarakat setempat sudah mengenal secara turun temurun peristiwa yang disebut sebagai smong,karena peristiwa serupa yakni tsunami pernah terjadi pada tahun 1907 sehingga apabila terjadi gempa besar diikuti oleh surutnya air laut dari bibir pantai secara drastis dan mendadak, maka otomatis tanpa disuruh seluruh penduduk, tua muda, besar kecil laki-laki dan perempuan beranjak meninggalkan lokasi menuju tempat-tempat ketinggian atau perbukitan guna menghindar dari terjangan smong atau tsunami tersebut.
Kearifan Smong
Masyarakat Simeulue menyampaikan peringatan tradisional tsunami melalui ‘tutur’ secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui cerita, nanga-nanga, sikambang dan nandong (seni tradisional Simeulue berupa dendang). Smong (nama lain dari tsunami dalam bahasa Simeulue), adalah sebuah bentuk pemahaman budaya yang telah mengalami proses pengendapan berpuluh tahun dalam memori kolektif masyarakat Pulau Simeulue. Karena telah menjadi memori kolektif maka smong telah menjadi bagian dari jati diri masyarakat Simeulue. Potongan syair tentang itu dapat ditemukan pada senandung pengantar tidur anak-anak di Pulau Simeulue.Istilah smong dikenal masyarakat Simeulue setelah tragedi tsunami pada hari Jumat, 4 Januari 1907. Gempa disertai tsunami dahsyat yang terjadi di wilayah perairan Simeulue masih pada zaman penjajahan Hindia Belanda. Kejadian tsunami ini tercatat dalam buku Belanda S-GRAVENHAGE, MARTINUSNIJHOF, tahun 1916 yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Saat itu masyarakat Simeulue belum mengetahui perihal tsunami ini, laut yang tiba-tiba surut pasca gempa menjadi daya tarik bagi masyarakat pesisir pantai, karena ditemukannya banyak ikan-ikan yang terdampar. Sebagian besar penduduk pesisir berlarian ke arah pantai dan berebut ikan-ikan yang terdampar tersebut, namun secara mengejutkan tiba-tiba kemudian datanglah tsunami yang menderu-deru dari arah laut lepas, sebagian besar masyarakat meninggal atas kejadian itu. Dan sebagian yang selamat, menjadi saksi mata atas kejadian smong dan menuturkannya untuk generasi mendatang agar berhati-hati terhadap kejadian serupa.
Pada saat gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 yang lalu di seluruh wilayah Kabupaten Simeulue lebih dari 1.700 rumah hancur tersapu tsunami, akan tetapi jumlah korban jiwa yang meninggal adalah 6 jiwa. Apabila diperkirakan di Pulau Simeulue rata-rata penghuni satu rumah adalah 5 jiwa, maka jumlah total manusia yang rumahnya diterjang tsunami lebih dari 8.500 jiwa. Atau sekitar 10 % dari total jumlah penduduk Kabupaten Simeulue. Hal ini berarti pada saat itu ada proses evakuasi besar-besaran dalam kurun waktu kurang dari 10 menit secara serempak di seluruh wilayah pantai Pulau Simeulue yang panjang garis pantainya mencapai 400 km. Mengingat bahwa infrastruktur telekomunikasi di Kabupaten Simeulue sangat terbatas maka peristiwa mobilisasi massa tersebut adalah peristiwa yang luar biasa.
Kejadian serupa itu hanya dapat dilakukan oleh sebuah pemahaman bersama yang kuat dengan persepsi yang sama terhadap satu objek tertentu. Sehingga pada saat kejadian yang sangat genting hal ini telah menjadi pengetahuan umum yang merata, yang dengan hanya satu sandi tertentu yang diucapkan maka hal tersebut akan menjadi gerakan massa yang sangat masif yang bergerak dengan kecepatan tinggi secara bersama-sama, walaupun mereka berada pada daerah yang terpisah-pisah.
Kata SMONG adalah kata sandi yang dipahami bersama oleh seluruh penduduk Pulau Simeulue untuk melukiskan terjadinya gelombang raksasa setelah terjadinya gempa besar. Mereka bukan hanya memahami kata tersebut saja, tetapi juga mereka memahami tindakan apa yang harus dilakukan apabila peristiwa tersebut terjadi. Ditengah tidak adanya sistem peringatan dini tsunami yang memadai, budaya smong yang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Kabupaten Simeulue telah mengambil alih fungsi teknologi. Dan terbukti pula budaya ini telah meyelamatkan masyarakat Kabupaten Simeulue dari bencana yang lebih besar. Masyarakat dunia yang juga mengetahui lemahnya sistem peringatan dini tsunami di sepanjang pantai barat Sumatera takjub melihat keajaiban yang terjadi di Pulau Simeulue. Hal ini kemudian mendorong masyarakat dunia melalui ISDR (International Strategy for Disaster Reduction) memberikan penghargaan SASAKAWA AWARD kepada masyarakat Kabupaten Simeulue. ISDR adalah lembaga dibawah Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations) yang memberikan perhatian pada upaya-upaya masyarakat mengurangi kerusakan dan kerugian akibat bencana. Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Bupati Simeulue Drs H Darmili mewakili seluruh masyarakat Kabupaten Simeulue pada tanggal 12 Oktober 2005 yang lalu di Bangkok, Thailand.
Penghargaan tersebut adalah wujud pengakuan dunia internasional pada kekuatan budaya smong sebagai sistem peringatan dini tsunami. Budaya smong semakin menemukan pengakuan ditengah kondisi bahwa sebelum tsunami 26 Desember 2004, tidak ada sistem peringatan dini tsunami di sepanjang pantai barat Sumatera yang sangat rawan gempa dan tsunami. Ditinjau dari sisi linguistik, terbentuknya kata smong cukup dekat dengan bunyi yang mendengung saat ombak menyerang bergulung-gulung. Di masyarakat Simeulue, smong berarti ombak besar yang datang bergulung-gulung yang didahului oleh gempa yang sangat besar. Fenomena yang dikenal masyarakat dunia dengan istilah tsunami. Pemahaman tentang smong ini tertanam kuat dalam memori masyarakat Simeulue dari anak-anak sampai orang tua.
Kuatnya penanaman smong dalam ingatan masyarakat Simeulue menunjukkan bahwa smong telah mengalami proses pengendapan yang lama sehingga lambat laun menjadi memori kolektif dalam bentuk sistem nilai masyarakat. Dalam sistem masyarakat Simeulue, penyampaian sebuah pesan sampai tertanam menjadi memori kolektif masyarakat hanya bisa dilakukan melalui media lisan. Nandong sebagai sebuah seni tradisi lisan masyarakat Simeulue memegang fungsi penting dalam membangun memori kolektif tersebut. Dengan demikian nandong dalam masyarakat Simeulue tidak hanya menjalankan fungsi klasik pantun atau syair yaitu sebagai media penyampai isyarat, pendidikan, pencatat sejarah dan hiburan. Nandong telah sampai pada fungsi tertinggi budaya lisan yaitu pembangun memori kolektif masyarakat. Fungsi ini yang membuat nandong efektif membangun perilaku masyarakat Simeulue dalam merespon fenomena alam gempa bumi yang diikuti tsunami.
Berikut ini pantun atau syair tentang smong dalam bahasa Simeulue yang disampaikan secara turun temurun dalam menyikapi kewaspadaan dini terhadap kejadian tsunami :
Inang maso semonan | Pado jaman nafe'e | Pada zaman dahulu | |||||
Manoknop sao fano | Tobanam amba desa | Tenggelam satu desa | |||||
Uwi lah da sesewan | Nak daya feila la curitokan | Begitulah mereka ceritakan | |||||
Unen ne alek linon | Ya lunen afe dulu | Diawali oleh gempa | |||||
Fesang bakat ne mali | Lentuk Bakat yu ekhi eba | Disusul ombak yang besar sekali | |||||
Manoknop sao hampong | Tobanam mahalek negeri | Tenggelam seluruh negeri | |||||
Tibo-tibo mawi | Tibo - tibo | Tiba-tiba saja | |||||
Anga linon ne mali | Bo dulu ni abe le | Jika gempanya kuat | |||||
Uwek suruik sahuli | Idane yu ata'a | Disusul air yang surut | |||||
Maheya mihawali | Rongkap akhuli | Segeralah cari | |||||
Fano me singa tenggi | Banuami yu ala wa | Tempat kalian yang lebih tinggi | |||||
Ede smong kahanne | Nak daya emong deini | Itulah smong namanya | |||||
Turiang da nenekta | Curito nenek moyang ta | Sejarah nenek moyang kita | |||||
Miredem teher ere | Longola ekhi - ekhi | Ingatlah ini betul-betul | |||||
Pesan dan navi da | Amanah afe nasehatla | Pesan dan nasihatnya |
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Simeulue